Video Klip “Tentang Rumahku”

Rumah Ramah, “Aku ingin pulang, tapi entah di mana rumah berada.”

Semua orang bisa mendefinisikan rumah bagi diri mereka sendiri. Sebagian orang menganggap bahwa rumah adalah di mana orang-orang yang mereka cintai berada. Sebagian lainnya menganggap bahwa rumah adalah tempat harta benda mereka terkumpul. Bagi lainnya, rumah tempat melepas lelah. Atau hanya sebuah sosok bangunan.

Tak satupun definisi yang salah, rumah selalu menjadi tumpuan, menjadi poros, menjadi magnet, menjadi pusat rotasi hidup dan kehidupan. Semua jalan yang kita tempuh, adalah jalan pulang menuju rumah.

Sayangnya, tak semua orang punya rumah untuk hatinya. Cinta memudar, harta benda menjadi membosankan, dan bangunan rumah hanya menjadi tembok dingin. Di sinilah titik rumah dipertanyakan, rumah menjadi kehilangan fungsi sebagai tempat pulang, lalu kita mencari-cari rumah yang lebih hangat. Lalu kita lelah, dan hati semakin ingin pulang.

Mengapa tak kita bangun saja rumah di perjalanan? Menjadi rumah-rumah kecil yang tetap hangat meski suatu hari pasti akan kita tinggalkan?
Mengapa tak kita menghangatkan kembali rumah yang dingin? Dengan tangan-tangan membentang yang siap menerima pelukan?
Mengapa tak kita bangun rumah-rumah hangat dalam hati kita masing-masing? Rumah hangat dengan bentangan tangan, yang menerima siapapun yang ingin pulang?

Salam Beribu Cinta, dari kami keluarga kecil “Dialog Dini Hari”

Find more about Mini Concert Album Launch Party.

360 Batu

Hari cerah diwaktu yang singkat
Berbagi ceria para sahabat
Lewati tebing tinggi menjulang
Seutas tali tangan berpegang

Pasir putih terbentang indah
Karang mengukir hati yang gundah
Memaksa diri lupakan risau
Lautan cinta intan berkilau

Bernyanyi riang dendangkan lagu
Duduk bersila mainkan gitarku
Lukisan langit biar tak menentu
Hati tak surut ombak merayu

Tertawa tertawalah kawan
Basuh basahi diri
Luka biar terluka kawan
Karam kering sendiri

Bahagia gembiralah jadikan kenangan
Canda alam bersahaja

Air laut tak lagi pasang
Cuaca redup gerimis datang
Angin bertiup awan bergerak
Surya tenggelam siap beranjak

Nada terakhir bawa kita pulang
Lewati tebing tinggi menjulang
Hei sobat kenang hari ini
Simpan dihati bawa pergi

Stoned Faces Don’t Lie feat. Ian J. Stevenson Live at Antida Sound Garden

21 SEPTEMBER 2013, jam 19.00. Wita di jalan Waribang 32 denpasar, dibuka gerbang halaman buat proses kreatif seni menjadi peristiwa budaya; sebelumnya telah dikenal Serambi Art Antida , yang telah mendorong kelahiran kelompok band dengan gaya bermusik alternatif bebas.
Jaringan anak muda Bali juga berbagai daerah dan Negara sebenarnya telah mengenal Serambi Art Antida dengan berbagai kegiatan kejutan dalam khasanah musik, modern art, kontemporer, yang mendekatkan ruang pementasan serius ke proses hubungan persaudaraan; hampir mendekati gerakan indie.
Kini Serambi Art Antida bermetamorfosis; menjadi ANTIDA SOUND GARDEN, mengingatkan akan halaman rumah adalah rumah tumbuh estetika hidup. Mengajak untuk mengembalikan ruang publik pada hubungan kemanusiaan, proses kreatif yang merdeka adalah di halaman rumah sendiri; kebun misalnya selalu ada di pekarangan rumah, maka jika Sound Garden menjadi kebun estetika, maka tidak mengherankan ini akan menjadi langkah baru di seluruh Bali dan Indonesia, ketika komunitas seni membebaskan diri dari tradisi-tradisi yang mengekangnya terutama birokrasi seni dan pengatasnamaan manajemen modern.
Proses estetika ini diawali dengan penampilan kontemporer Teater Bhumi Bajra – Dayu Arya, lalu Cok Sawitri membacakan puisi
“Setahun kematian semilyar nyanyianku mati, kiamatku dalam jarak 3 centimeter” diiringi dengan petikan gitarnya Dadank Pohon Tua (Dialog Dini Hari).
Ganjil menghentak dengan lagu nenek sihir, kemudian Dialog Dini Hari yang memukau juga membawakan pertunjukan spesial dengan berkolaburasi dengan Ian J. Stevenson membawakan “Stoned Faces Don’t Lie”
Malam itu ditutup ditutup oleh Kupit Nosstress membawakan lagunya Raka Sidan “ Song Brerong “
Malam yang dasyat di Antida Sound Garden

Video Klip Pelangi

Lagu ini merupakan bagian dari album Lengkung Langit, yang dirilis dalam bentuk vinyl 7 inci pada Juni 2012 lalu.

Untuk pembuatan video klip kali ini Dialog Dini Hari menggandeng seorang sutradara video klip bernama Aditya Surya Taruna. Bersama-sama mereka menyelesaikan pembuatan video klip ini di sela-sela persiapan album ke-4 yang akan rilis pertengahan tahun 2013 ini.
Continue reading

Rangkaian gambar yang tertangkap kamera dari Tur Konser “Suara Tujuh Nada”

Tujuh adalah langit, Tujuh adalah nada, Diantara keduanya kita bercerita, Tentang cinta, perjalanan, semesta dan manusia [Dadang Pranoto].

Suara Tujuh Nada adalah seri pertama perjalanan tur konser musik yang berlangsung selama tiga hari, di tiga kota, dan melibatkan tiga kelompok musik. Kelompok musik yang tampil adalah White Shoes and The Couples Company, Dialog Dini Hari, dan Stars and Rabbit.

Tur konser Suara Tujuh Nada berlangsung di; – Maja House, Bandung 6 Maret 2013 – Teater Garasi, Yogyakarta 7 Maret 2013 – Taman Agro, Denpasar 8 Maret 2013.

Video ini menangkap detail momen pada perjalanan tersebut yang dimulai dari Jakarta (g production) 6 Maret 2013 pada pagi hari menuju Bandung menggunakan Bus. Usai pentas di Bandung (Maja House) pukul 12.00 malam rombongan langsung melanjutkan perjalanan menuju Jogja melalui jalan darat menggunakan bus yang sama, dan pentas keesokan malamnya 7 Maret 2013 di Teater Garasi, lalu esok subuh melanjutkan perjalanan melalui jalur udara menuju Bali 8 Maret 2013.

Sampai jumpa pada tur konser Suara Tujuh Nada seri kedua,
Sampai jumpa lagi pada pertunjukan musik Indonesia berikutnya.

via @DjakSphere